Sejak ribuan tahun lalu, Kaisar Marcus Aurelius telah memahami
bagaimana cara terbaik menghadapi dan membalas musuh yang berbuat jahat
kepada kita.
Dalam hidup ini, tidak ada seorangpun yang bisa menerima diperlakukan
jahat oleh orang lain. Dan secara naluriah, jika ini terjadi, maka insting
manusia akan mencari bentuk keadilan dari perlakuan itu. Singkatnya,
membalas perlakuan jahat itu, atau balas dendam.
Kaisar Marcus Aurelius telah memahami ini dan ingin agar kita melakukan
pembalasan itu dengan cara terbaik. Sebuah tindakan balas dendam yang bisa
membayar hutang keadilan dari perlakuan jahat yang kita terima.
Quote ini baru akan terasa powerfulnya jika kita benar-benar memahami
konsteksnya. Meskipun sepintas mungkin kita akan merasakan bahwa quote ini
hanya mengajarkan hal baik seperti pada umumnya, namun agar kita bisa
menangkap seutuhnya makna quote ini, kita perlu bicara pada konteks
aslinya yaitu tentang balas dendam. cara balas dendam yang terbaik kepada
musuh kita.
Untuk mempermudah pemahaman, kita bisa membayangkan bahwa saat ini kita
ingin melampiaskan rasa amarah kita kepada musuh kita dan benar-benar bisa
membalas perlakuan mereka. Agar kita bisa merasa mendapatkan keadilan.
Baik bagaimana cara melakukan pembalasan terbaik itu ?
Caranya adalah dengan tidak menjadi seperti musuh kita.
Singkatnya, tidak meniru tindakan jahat mereka.
Apakah anda bisa membayangkan bahwa seorang Kaisar Romawi, Marcus Aurelius
yang mengatakan bahwa ini adalah cara terbaik untuk membalas dendam ?
Yang berarti cara ini lebih baik daripada kita membalas musuh dengan
menyakiti, memukul atau melakukan tindakan penuh amarah lainnya.
Sekarang, kita tidak dapat melanjutkan pembahasan ini sebelum kita bisa
menerima terlebih dahulu cara balas dendam ini, yang tentunya terasa tidak
lazim, karena umumnya sebuah tindakan balas dendam identik dengan membalas
menyakiti musuh.
Meskipun cara ini tentunya bukanlah cara yang asal-asalan atau
dibuat-buat, karena cara ini dikatakan oleh Marcus Aurelius, seorang
Kaisar yang memerintah Romawi pada Tahun 161 M.
Nah jika sampai disini kita telah memberikan setidaknya kemungkinan bahwa
ini bisa logis bagi kita, baru selanjutnya kita bisa menyelami dalamnya
makna dan kebenaran quote ini.
Inti dari quote ini adalah menolak untuk menurunkan standar moral kita
setingkat dengan musuh atau orang yang berbuat jahat kepada Anda.
Jadi jika kita terpengaruh dan menjadi negatif, lalu menabur energi
kebencian dihati kita sendiri karena perlakuan jahat itu. Itu sama artinya
kita telah menyamakan diri kita dengan musuh kita. Dan kita sendirilah
yang sebenarnya telah memenangkan musuh. Musuh itu telah mendapatkan apa
yang dia inginkan. Yaitu menyakiti kita.
Seneca menekankan bahwa amarah sering kali bertahan lebih lama daripada
luka itu sendiri. Artinya jika kita tetap menyimpan dendam dalam waktu
yang lama, maka itu adalah hal yang sangat merugikan, karena energi
negatif amarah itu akan terus menerus merusak diri kita, sedangkan luka
dari perlakuan jahat musuh itu sebenarnya telah sembuh.
Oleh karena itu maka balas dendam terbaik bukanlah dengan kekerasan atau perdebatan, melainkan melepaskan amarah kita dan memilih untuk tetap damai, tenang, dan bijaksana.
Kita tetap bermartabat, dan fokus pada pengembangan diri sendiri,
alih-alih merendahkan diri kita dengan membalas perlakuan buruk musuh dan
pada akhirnya kita menjadi setara dengan mereka.
Sikap ini juga sekaligus akan memukul mental musuh kita dari dalam diri
mereka sendiri. Musuh akan kacau dan merasa bahwa kita tidak terpengaruh
dan tidak dapat disakiti. Mereka akan merasa jatuh karena telah melakukan
hal yang sia-sia dan bahkan tidak mendapat perhatian kita. Ini adalah
perang mental yang secara otomatis dan mudah kita menangkan.
Tonton Versi Videonya di Channel Youtube QuotesTrip : @quotestrip :